Dulu waktu aku masih labil dan mungkin baru mengenal sosmed kayak Facebook, aku selalu berusaha untuk show to others that i'm happy, gaul, pokoknya OK. Jadi aku selalu berusaha untuk "menangkap" kejadian melalui kamera HP dan pastinya buat posting ke FB. Trus gak puas di FB, aku lanjut main di Twitter, Path, dan IG. Nah, akhirnya aku selalu mikir akan apa aja yang mau diposting selanjutnya? Apa aja hal yang menarik yang harus di tunjukin ke orang lain?
Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena aku terobsesi akan "Like" baik pada setiap status ataupun foto. Aku selalu merindukan "gangguan" akan notif-notif di FB, Path maupun IG. Aku gak memerlukan komentar, karena yang aku perlukan adalah seberapa banyak sih orang nge-Like tiap postingan ku?
Guys, aku pribadi terkadang gak bisa menahan diri di sosial media, tapi aku juga gak men-judge kalo bermain sosmed itu "haram". Aku juga salah satu pemakai sosmed. Bukan bermaksud untuk ngelarang kalo bermain sosmed itu gak bisa. Bisa!
Tapi yang lagi Tuhan ajarin adalah....
Bagaimana lebih berhikmat dalam memakai sosmed?
Sosmed sekarang udah menjadi sebuah "candu" .
Kenapa???
Karena sosmed bisa membuat kita lupa untuk mengambil waktu berdua dengan Tuhan.
Aku pribadi belakangan ini juga ditegur oleh Tuhan soal sosmed dari yang pernah aku renungkan dan perhatikan mengenai dampak nya bagi setiap orang.
Sosmed bisa membuat kita sampe begadang semalam suntuk.
Sosmed membuat kita "autis" meskipun sedang bersama teman atau keluarga.
Sosmed bisa membuat kita menjadi suka gosip, menyindir, provokasi lewat komentar kita di status orang lain atau status kita sendiri.
Sosmed bisa membuat kita "membandingkan" kehidupan kita dengan orang lain, akhirnya kita menilai kesempurnaan hidup seseorang dari setiap "foto" yang di posting.
Sosmed bisa membuat kita gak konsen waktu mendengarkan kotbah pendeta pada saat ibadah. :)
Nah, guys ternyata sangat banyak dampak negatif dari sosmed jika kita gak pintar menahan diri dan memanage penggunaan sosmed itu sendiri.
Namun sosmed juga banyak hal positif nya loh buat kita, dan aku pribadi juga merasakan hal itu.
Aku bisa tau informasi dari sosmed.
Aku bisa terhubung dengan keluarga yang udah lama gak ketemu melalui sosmed.
Aku bisa menggalang dana buat rumah belajar melalui sosmed.
Namun sekarang gimana biar yang positif nya lebih banyak, dan yang negatif bisa kita minimalkan.
Saat aku menulis mengenai sosmed ini, aku juga di ingatkan kembali sama Tuhan, kalo ternyata aku pernah "gak bener" dalam hal bersosmed ria. :)
Aku pernah ingin menjadi seperti orang lain dan memaksakan diri agar banyak orang melihat kalo aku ini oke. Aku membandingkan diri ku dengan cewe cantik yang lagi selfie di Fb, trus seketika itu aku merasa ciut. Eh, ternyata aku masih kalah cantik dari dia! Aku selalu ingin posting foto bareng cowo aku dulu biar orang melihat kalo kami adalah pasangan serasi dan berbahagia! :p
Pokoknya dulu aku belajar untuk ber "kamuflase" lewat dunia maya.
Nah, suatu waktu aku pernah sharing dengan seorang sahabat mengenai sosmed. Ternyata dia juga pernah mengalami perasaan yang sama dengan ku yaitu mulai membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain.
Namun yang membuat aku merasa diberkati adalah saat sahabatku bilang begini :
" Waktu aku melihat kehidupan mereka lewat Facebook, ada sih sedikit perasaan "kurang" gitu dari mereka. Trus aku bertanya dalam hati, apakah melalui hal itu hidup ku memuliakan Tuhan? Apakah tingkah laku ku benar-benar menyenangkan hati Tuhan?"
Itu sebuah statement yang luar biasa! Tuhan ingatkan ku kembali bahwa dalam hal bermain sosmed sekalipun hidup ku harus memuliakan Tuhan. Memuliakan Tuhan bukan harus posting status rohani melulu, posting foto sedang ibadah, pelayanan. Karena bagaimanapun tingkah lagu dalam hidup yang nyata adalah jauh lebih penting dari sekedar status atau foto di sosmed.
Berhikmat di sosial media juga merupakan cara untuk memuliakan nama Tuhan. Dengan berhikmat di sosial media, kita tidak memancing komentar negatif orang lain akan status dan foto yang kita posting di sosmed.
Aku pernah baca sebuah blog tentang bagaimana respon kita saat melihat banyaknya warna-warni kehidupan yang terpampang di sosmed.
Yang terpenting adalah bukan kehidupan yang kelihatan sempurna, hebat, romantis, ceria di sosial media tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kehidupan kita dan hubungan kita dengan orang lain di kehidupan real.
Nah, saat itu lah Tuhan ajari aku untuk lebih mementingkan kehidupan real daripada kehidupan sosial media. Karena mulai banyak orang terjebak hidupnya karena sosmed. Mencari kebahagiaan dan perhatian lewat sosmed. Nah, kalau udah begini bagaimana coba?
Kita perlu untuk lebih berhikmat juga dalam merespon setiap kejadian yang ada di sosial media. Tuhan juga ajarin lagi untuk lebih menahan diri saat "niat" untuk posting status maupun foto muncul di benak ku. Harus tenang dan gak boleh grasak grusuk . Tuhan juga ajari lagi ....
Do not compare your life with others. Your life is perfect in the eyes of God , NOT in the eyes of peoples.
Dalam status atau gambar rohani pun, gak otomatis menunjukkan kita sebagai orang yang rohani.
Kedalaman hubungan kita dengan Tuhan bukan dibangun melalui status rohani di sosial media tetapi dibangun lewat waktu pribadi dengan Tuhan dan akan nyata terlihat melalui buah-buah yang dhasilkan dan juga melalui respon kita ketika sedang menghadapi badai.
Intinya kita tetap bebas memakai sosmed. Namun, hendaknya kita semakin berhikmat di sosial media, dan fokus kita adalah untuk hal yang positif bukan yang negatif . \
Tuhan menginginkan kehidupan yang nyata dan hubungan yang baik dengan Dia dan sesama daripada apa yang kelihatan di sosial media. :)
Selamat bersosial media :)
Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Kolose 4:5
Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena aku terobsesi akan "Like" baik pada setiap status ataupun foto. Aku selalu merindukan "gangguan" akan notif-notif di FB, Path maupun IG. Aku gak memerlukan komentar, karena yang aku perlukan adalah seberapa banyak sih orang nge-Like tiap postingan ku?
Guys, aku pribadi terkadang gak bisa menahan diri di sosial media, tapi aku juga gak men-judge kalo bermain sosmed itu "haram". Aku juga salah satu pemakai sosmed. Bukan bermaksud untuk ngelarang kalo bermain sosmed itu gak bisa. Bisa!
Tapi yang lagi Tuhan ajarin adalah....
Bagaimana lebih berhikmat dalam memakai sosmed?
Sosmed sekarang udah menjadi sebuah "candu" .
Kenapa???
Karena sosmed bisa membuat kita lupa untuk mengambil waktu berdua dengan Tuhan.
Aku pribadi belakangan ini juga ditegur oleh Tuhan soal sosmed dari yang pernah aku renungkan dan perhatikan mengenai dampak nya bagi setiap orang.
Sosmed bisa membuat kita sampe begadang semalam suntuk.
Sosmed membuat kita "autis" meskipun sedang bersama teman atau keluarga.
Sosmed bisa membuat kita menjadi suka gosip, menyindir, provokasi lewat komentar kita di status orang lain atau status kita sendiri.
Sosmed bisa membuat kita "membandingkan" kehidupan kita dengan orang lain, akhirnya kita menilai kesempurnaan hidup seseorang dari setiap "foto" yang di posting.
Sosmed bisa membuat kita gak konsen waktu mendengarkan kotbah pendeta pada saat ibadah. :)
Nah, guys ternyata sangat banyak dampak negatif dari sosmed jika kita gak pintar menahan diri dan memanage penggunaan sosmed itu sendiri.
Namun sosmed juga banyak hal positif nya loh buat kita, dan aku pribadi juga merasakan hal itu.
Aku bisa tau informasi dari sosmed.
Aku bisa terhubung dengan keluarga yang udah lama gak ketemu melalui sosmed.
Aku bisa menggalang dana buat rumah belajar melalui sosmed.
Namun sekarang gimana biar yang positif nya lebih banyak, dan yang negatif bisa kita minimalkan.
Saat aku menulis mengenai sosmed ini, aku juga di ingatkan kembali sama Tuhan, kalo ternyata aku pernah "gak bener" dalam hal bersosmed ria. :)
Aku pernah ingin menjadi seperti orang lain dan memaksakan diri agar banyak orang melihat kalo aku ini oke. Aku membandingkan diri ku dengan cewe cantik yang lagi selfie di Fb, trus seketika itu aku merasa ciut. Eh, ternyata aku masih kalah cantik dari dia! Aku selalu ingin posting foto bareng cowo aku dulu biar orang melihat kalo kami adalah pasangan serasi dan berbahagia! :p
Pokoknya dulu aku belajar untuk ber "kamuflase" lewat dunia maya.
Nah, suatu waktu aku pernah sharing dengan seorang sahabat mengenai sosmed. Ternyata dia juga pernah mengalami perasaan yang sama dengan ku yaitu mulai membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain.
Namun yang membuat aku merasa diberkati adalah saat sahabatku bilang begini :
" Waktu aku melihat kehidupan mereka lewat Facebook, ada sih sedikit perasaan "kurang" gitu dari mereka. Trus aku bertanya dalam hati, apakah melalui hal itu hidup ku memuliakan Tuhan? Apakah tingkah laku ku benar-benar menyenangkan hati Tuhan?"
Itu sebuah statement yang luar biasa! Tuhan ingatkan ku kembali bahwa dalam hal bermain sosmed sekalipun hidup ku harus memuliakan Tuhan. Memuliakan Tuhan bukan harus posting status rohani melulu, posting foto sedang ibadah, pelayanan. Karena bagaimanapun tingkah lagu dalam hidup yang nyata adalah jauh lebih penting dari sekedar status atau foto di sosmed.
Berhikmat di sosial media juga merupakan cara untuk memuliakan nama Tuhan. Dengan berhikmat di sosial media, kita tidak memancing komentar negatif orang lain akan status dan foto yang kita posting di sosmed.
Aku pernah baca sebuah blog tentang bagaimana respon kita saat melihat banyaknya warna-warni kehidupan yang terpampang di sosmed.
Yang terpenting adalah bukan kehidupan yang kelihatan sempurna, hebat, romantis, ceria di sosial media tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kehidupan kita dan hubungan kita dengan orang lain di kehidupan real.
Nah, saat itu lah Tuhan ajari aku untuk lebih mementingkan kehidupan real daripada kehidupan sosial media. Karena mulai banyak orang terjebak hidupnya karena sosmed. Mencari kebahagiaan dan perhatian lewat sosmed. Nah, kalau udah begini bagaimana coba?
Kita perlu untuk lebih berhikmat juga dalam merespon setiap kejadian yang ada di sosial media. Tuhan juga ajarin lagi untuk lebih menahan diri saat "niat" untuk posting status maupun foto muncul di benak ku. Harus tenang dan gak boleh grasak grusuk . Tuhan juga ajari lagi ....
Do not compare your life with others. Your life is perfect in the eyes of God , NOT in the eyes of peoples.
Dalam status atau gambar rohani pun, gak otomatis menunjukkan kita sebagai orang yang rohani.
Kedalaman hubungan kita dengan Tuhan bukan dibangun melalui status rohani di sosial media tetapi dibangun lewat waktu pribadi dengan Tuhan dan akan nyata terlihat melalui buah-buah yang dhasilkan dan juga melalui respon kita ketika sedang menghadapi badai.
Intinya kita tetap bebas memakai sosmed. Namun, hendaknya kita semakin berhikmat di sosial media, dan fokus kita adalah untuk hal yang positif bukan yang negatif . \
Tuhan menginginkan kehidupan yang nyata dan hubungan yang baik dengan Dia dan sesama daripada apa yang kelihatan di sosial media. :)
Selamat bersosial media :)
Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Kolose 4:5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar