Minggu, 14 Agustus 2016

Kisah Sepotong Kue : "Terimakasih ya Miss" :)

Seperti biasa tiap hari Sabtu di minggu pertama dan ketiga, aku dan team pergi ke desa yang gak terlalu terpencil untuk ngajar di Rumah Belajar Sopo Palito tepatnya di desa Sopo Komil, Parongil. Aku pribadi memang menyukai kegiatan sosial dan sangat senang untuk mengajar anak-anak meskipun gak mengajar formal kayak di sekolahan. Tapi di Rumah Belajar ini aku membawa materi Matematika dan Bahasa Inggris buat mereka. Belajar sambil bermain, itu adalah konsep yang kami bawakan, selain itu aku juga belajar untuk membina mereka dalam segi karakter dan gak lupa juga membawa firman Tuhan meskipun hanya 5 menit. :)


Sabtu kemarin adalah berkat yang luar biasa buat aku. Jadi ceritanya, sehabis mengajar dan kasih PR buat mereka, seperti biasa aku dan team bawa soft drink dan snack untuk dibagi-bagikan ke anak-anak. Ini udah menu wajib buat mereka. Setelah membagi soft drink, lalu aku bagikan snack berupa kue kecil. Saking sibuknya, aku hanya fokus untuk membagikan kue dan pikirku semua anak harus dapat kue masing-masing satu, sembari mencoba menertibkan anak-anak yang pengen banget berebut karna takut gak kebagian. wkwkwk :p

Trus setelah hampir separuh anak udah dapat kue nya, aku kasih ke seorang anak cewek dan dia masih duduk dibangku TK.

Aku   : "Ini kuenya sayang...." :)
Adik  : "Makasih ya Miss" :)


Oww, aku terkejut dan seketika sadar. "Kok, hanya dia yang bilang makasih ke aku?". Lalu aku lanjut kembali bagikan kue nya ke anak-anak lain yang mungkin tinggal 7 orang lagi yang belum dapat. Ternyata setelah semua pembagian kuenya selesai, bahwa memang hanya si anak tadi yang hanya bilang makasih ke aku.! 

Guys, ini bukan soal kita berharap orang lain ucapkan terimakasih ke kita ketika memberi sesuatu bagi orang lain, meskipun kata "terimakasih" ini menunjukan respon kita terhadap suatu hal. Tapi pelajaran yang aku dapatkan adalah bagaimana seorang anak kecil yang masih TK dan dia udah bisa merespon suatu pemberian dengan ucapan  terimakasih. Dan yang paling bikin aku heran adalah anak itu sendiri yang non-Kristen dan anak yang lain semuanya Kristen. Apa aku gak makin sedih?

Anak-anak yang lain hanya menerima dan tersenyum mungkin karna begitu bahagia mendapatkan kue. Logikanya dan umumnya, anak kecil biasanya belum tau untuk bilang makasih kecuali jika diajari oleh orang tua, itupun saat kejadiannya sedang berlangsung menerima suatu pemberian. Kalau hanya dia sendiri, mungkin belum bisa untuk bilang makasih. 

Lalu setelah selesai membagikan kuenya, aku mencoba menyinggung masalah yang kecil ini. Masalah yang kecil namun ini sangat berhubungan dengan karakter kita. Padahal murid-murid ku banyak loh yang udah pada kelas 4 sampai 6 SD. Namun anak TK non Kristen ini sangat menggugah hati ku. Tapi kenapa hanya dia yang ingat untuk bilang terimakasih ke Miss nya? Aku percaya dia sangat di didik dengan baik oleh orangtua nya untuk perkara "terimakasih" :)

Aku ingin mereka belajar dari seorang anak kecil ini.

Apakah kita sudah mampu bilang makasih pada hal-hal yang kecil?

Kejadian ini kembali mengingatkanku bagaimana saat Yesus ketika menyembuhkan kesepuluh orang kusta dalam injil Lukas 17:11-19. 

Lukas 17:15-17
15. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring.
16. Lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
17.Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Dimanakah yang sembilan orang itu?"

Yesus heran kenapa dari kesepuluh orang kusta tadi, namun hanya satu orang yang bersyukur dan memuliakan Tuhan? Padahal dia adalah orang Samaria. Seperti yang kita tau bahwa orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria karena mereka saling berseteru. Namun meskipun dia gak kenal Tuhan Yesus, tapi dia merespon anugerah dan kesembuhan yang sudah dia terima dari Yesus.

Apa yang bisa aku atau kita pelajari dari kisah sepotong kue dan kesepuluh orang kusta itu?

Tuhan ingin agar kita yang udah menerima anugerah-Nya tau untuk mengucap syukur. Mengucap syukur bukan hanya pada berkat yang besar namun juga saat menerima berkat-berkat yang kecil. Betapa pentingnya kita untuk mengucap syukur karena kita menyadari bahwa segala sesuatu yang kita peroleh adalah karena anugerah Tuhan bukan dari hasil kerja keras kita semata.

Seperti orang Samaria yang mana mereka dianggap menyembah berhala tapi justru mereka yang lebih tau berterimakasih kepada Tuhan. Nah, apalagi kita yang udah kenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, masihkah kita belum sanggup untuk mensyukuri pemberian kecil yang udah Tuhan kasih? 

Marilah kita belajar dari kisah sepotong kue dan kesepuluh orang kusta agar kita memiliki hati yang bersyukur karena itulah kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Tuhan ajarlah kami untuk tau mengucap syukur akan anugerah yang sudah Engkau beri :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perlukah Kita Mendesak Waktunya Tuhan???

Kemarin aku dengar curhat nya mama. Mama bilang kalau abang ku yang bisa dikatakan sudah sedikit berumur (31) bilang ke mama bahwa dia suda...